PENDAHULUAN
Konseling merupakan proses bantuan
untuk mengentaskan masalah yang terbangun dalam suatu hubungan tatap muka
antara dua orang individu (klien yang mengahadapi masalah dengan konselor yang
memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan). Bantuan dimaksud diarahkan agar
klien mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu tumbuh kembang ke
arah yang dipilihnya, sehingga klien mampu mengembangkan dirinya ke arah
peningkatan kualitas kehidupan sehari-hari yang efektif (effektive daily living).
Hubungan dalam proses konseling terjadi dalam suasana profesional dengan
menyediakan kondisi yang kondusif bagi perubahan dan pengembangan diri klien.
Konseling
profesional merupakan layanan terhadap klien yang dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh dan dapat dipertanggungjawabkan dasar keilmuan dan
teknologinya. Penyelenggaraan konseling profesional bertitik tolak dari
pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya. Secara umum,
pendekatan konseling hakikatnya merupakan sistem konseling yang dirancang dan
didesain berdasarkan teori-teori dan terapan-terapannya sehingga muwujudkan
suatu struktur performansi konseling. Bagi konselor, penggunaan pendekatan
konseling merupakan pertanggung jawaban ilmiah dan teknologis dalam
menyelenggaraan konseling.
Persoalannya adalah, dalam kondisi riil, kebanyakan praktik konseling, baik
dalam setting sekolah maupun di berbagai lembaga/instansi yang ada di
masyarakat, belum dilaksanaan secara profesional, dalam arti belum
bertitik tolak dari pendekatan-pendekatan yang secara ilmiah dan teknologis
dapat dipertanggungjawabkan. Prayitno menyatakan bahwa dalam praktiknya di
masyarakat, tampak ada lima tingkatan keprofesionalan konseling, yaitu tingkat
pragmatik, dogmatik, sinkretik, eklektik, dan mempribadi. Tingkat konseling
pragmatik adalah penyelenggaraan konseling yang menggunakan cara-cara yang
menurut pengalaman konselor pada waktu terdahulu dianggap memberikan
hasil yang optimal, meskipun cara-cara tersebut sama sekali tidak berdasarkan
pada teori tertentu. Dalam praktik konseling dogmatik konselor telah
menggunakan pendekatan tertentu, bahkan pendekatan tersebut dijadikan dogma
untuk segenap permasalahan dari semua klien. Dalam penyelenggarakaan konseling
sinkretik konselor telah menggunakan sejumlah pendekatan konseling, namun
penggunaan pendekatan tersebut bercampur aduk tanpa sistematika ataupun
pertimbangan yang matang.
A.
PENDEKATAN,
METODE DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING
1. Pendekatan
Ada tiga model pendekatan konseling
yang sudah banyak dikenal, yakni konseling direktif, konseling non
direktif, dan pendekatan eklektik. Artikel dibawah ini akan mencoba
membahas pendekatan ini satu persatu.
a. konseling
direktif
Pendekatan ini bertolak dari asumsi
bahwa manusia merupakan makhluk rasional dan memiliki potensi-potensi
yang bisa dikembangkan ke arah positif atau negatif. Manusia dipandang tidak
akan bisa berkembang secara otonom, melainkan butuh pertolongan orang lain agar
dapat mencapai batas kemampuannya secara penuh. Setiap orang merupakan pribadi
yang unik yang memiliki aneka bakat dan kemampuan dan yang berusaha menata
serta mengembangkan hidupnya dengan menggunakan potensi-potensinya yang unik
itu.
· Hakikat
kecemasan seseorang adalah ketidak-pastian tentang cara menggunakan
potensi-potensinya itu.
· Tujuan
konseling adalah menolong sang individu untuk secara bertahap dan pelan-pelan
semakin memahami dan semakin terampil mengatur dirinya sendiri.
· Teknik-teknik
penting yang digunakan meliputi: mencoba menekan agara patuh, mengubah
lingkungan, memilih lingkungan, mengajarkan aneka keterampilan yang diperlukan,
dan mengubah sikap.
· Tes-tes dan
alat ukur lain juga banyak dipakai. Riwayat hidup konseli perlu diungkap agar
konseling dapat dilaksanakan. Diagnosis dan prognosis merupakan keharusan.
Klien harus dinasehati apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.
· Pendekatan
direktif ini biasanya cocok dipakai terhadap klien-klien ‘normal’ yang butuh
ditolong agar merasa siap menghadapi aneka tuntutan penyesuaian sebelum berkembang
konflik-konflik di dalam dirinya. Dalam pendekatan ini si konelor berperan
aktif.
b. konseling non
direktif
Pendekatan ini semula dikembangkan
oleh Carl Rogers. Dewasa ini, pendekatan ini disebut sebagaikonseling yang
berpusat pada klien.
Asumsi dasar yang melandasi
pendekatan ini adalah bahwa manusia pada dasarnya rasional, baik, dapat
dipercaya, bergerak ke arah aktualisasi diri atau ke arah pertumbuhan, keadaan
sehat, realisasi diri, kebebasan, dan otonomi. Konsep diri atau cara sang
pribadi mempersepsikan dirinya sendiri merupakan pengatur tingkah laku. Agar
bisa mengatur dan menata tingkah laku sesuai dengan konsep dirinya, nmaka sang
pribadi harus memiliki kontak yang baik dengan realitas.
· Konseli
merasa cemas sebab terjadi ketidakseimbangan antara konsep dirinya dan
pengalamannya, karena kondisi-kondisi bagi rasa harga dirinya diperkosa, dan
karena kebutuhannya akan penghargaan diri dikecewakan.
· Tujuan
konseling adalah menolong konseli agar kembali mampu mengarahkan dirinya
sendiri serta mampu berfungsi secara penuh sebagai pribadi yang kongruen,
masak, dan membuka diri terhadap pengalaman.
· Teknik-teknik
konseling yang digunakan meliputi bertanya, memberikan pengukuhan, bombongan
dan sugesti. Semua ini dilakukan secara terbatas. Peran utama sang konselor
adalah mengkomunikasikan penerimaan, penghargaan dan pemahaman.
Sikap dasar yang dianut adalah bahwa
seorang individu memiliki kemampuan untuk berkembang dan berubah, sehingga ia
pun mampu memecahkan sendiri masalah-masalhnya. Seorang konseli mendatangi
seorang konselor tidak seperti seorang pasien mendatangi dokter agar
didiagnosis dan diberi obat-obat untuk menghilangkan penyakitnya. Diagnosis dan
prognosis dipandang berlawanan dengan proses konseling sendiri. Yang dilakukan
oleh konselor adalah masuk ke dalam suasana permisif bersama si konseli, dan
dengan begitu konseli diharapkan mampu menyalurkan energinya dan memanfaatkan
sumber-sumber yang terdapat di dalam dirinya secara penuh.
Teknik konselingnya dipusatkan pada
si konseli, bukan pada masalahnya. Konselor memudahkan berlangsungnya proses
konseling dengan cara sepenuhnya menerima konseli apa adanya, menciptakan
suasana hangat penuh pemahaman, sehingga dalam suasana rasa aman semacam itu
diharapkan konseli mampu menjadi dirinya sendiri dan mengungkapkan aneka
perasaan serta sikapnya yang lebih dalam. Konselor tidak memberikan penilaian
moral apapun, serta tidak menunjukkan rasa terkejut atau muak terhadap apa saja
yang diungkapkan oleh konseli. Ia menyelami perasaan konseli sehingga
akan mampu melihat dunia ini sebagaimana dilihat oleh konseli, dan selanjutnya
memantulkan perasaan-perasaan kembali kepada si konseli. Konseli tidak
memberikan nasehat, atau penafsiran serba intelek atas perilaku dan perasaan
konseli. Jadi, kualitas-kualitas yang dituntut dari para konselor yang berpusat
pada klien adalah sikap-sikap kongruensi, empati, dan ketulusan tanpa syarat.
Seorang konselor non direktif
bertindak sebagai sejenis katalisator. Ia berbicara sangat sedikit, sebaliknya
menggunakan sebagian besar waktunya untuk mendengarkan dan menunggu. Dari waktu
ke waktu ia berusaha memberikan komentar-tanggapan yang netral, mengucapkan
ungkapan-ungkapan pendek berisi bombongan seperti “ya”, “saya mengerti”, atau
“tolong, dijelaskan lebih lanjut”, dan harus mengulangi kalimat terakhir atau
isis pernyataan yang dikemukakan konseli.
Jadi peran konselor adalah sebagai
fasilitator dan reflektor. Tugasnya adalah menolong konseli memahami dirinya,
menjernihkan serta merefleksikan kembali perasaan-perasaan dan sikap-sikap
yang dinyatakan konseli. Konselor berusaha menciptakan iklim di mana konseli
mampu melakukan perubahan di dalam dirinya. Penggunaan tes dan alat-alat ukur
lainnya sangat dibatasi. Menyelidiki sejarah hidup konseli, membuat diagnosis
dan prognosis dipandang bertentangan dengan hakikat proses konselingnya
sendiri.
Dewasa ini jenis klien yang dilayani
dengan pendekatan nondirektif ini tidak lagi dibatasi.
c. konseling
eklektik
Kata eklektik berarti menyeleksi
atau memilih menggunakan teori-teori atau metode-metode yang cocok dari aneka
sumber atau sistem.
Asumsi yang mendasari pendekatan
eklektik ini ialah bahwa individu secara berkala membutuhkan pertolongan
professional untuk memahami dirinya sendiri serta situasi-situasinya, dan
mengatasi aneka masalahnya. Pertolongan istimewa ini harus bersifat mendidik.
Seorang konselor eklektik berpendapat bahwa penggunaan sebuah pendekatan
tunggal hanya akan membatasi gerak, di samping itu aneka sumber yang tersedia
haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada
siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dalam melaksanakan tugasnya, konselor
eklektik mengikuti sebuah filsafat dan arah yang konsisten, sedangkan
teknik-teknik yang digunakannya pun dipilih karena sudah teruji bukan berdasarkan
coba-coba belaka. Dengan bekal pengetahuannya tentang persepsi, prinsip-prinsip
pengembangan, prinsip-prinsip belajar dan kepribadian, sang konselor eklektik
mengembangkan sejenis bank metode, lalu memilih yang paling cocok untuk
menangani suatu masalah tertentu.
Dalam konseling eklektik, konselor
memiliki kebebasan metodologis untuk menggunakan aneka ktrampilan khusus yang
dimilikinya serta memilih cara-cara demi memberikan pertolongan terbaik bagi
konseli. Konseling eklektik menekankan pentingnya diagnosis dalam memahami
seseorang. Para konselor yang mengikuti model ini haruslah mengenal
indikasi-indikasi dari aneka metode yang sudah dikenal luas serta harus mampu
menggunakannya tanpa bias. Sifatnya yang komprehensif menjadikan model ini
popular, sedangkan cakupannya yang luas cocok dengan cita-cita demokratis untuk
menolong memenuhi kebutuhan individual semua (maha) siswa.
Untuk menerapkan model eklektik ini
maka para konselor harus diberi bekal persiapan yang lebih luas dan harus ada
jalinan yang lebih baik antara apa yang dikerjakan oleh guru, konselor dan
tenaga-tenaga ahli lainnya.
Konselor eklektik sering dipandang
sebagai jalan tengah untuk menjembatani polarisasi antara konseling direktif
dan konseling non direktif
2. Metode
Metode bimbingan dan konseling yang dimaksud disini
adalah cara-cara tertentu yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling.
Implementasi dari cara-cara tertentu biasanya terkait dengan
pendekatan-pendekatan yang digunakan oleh pengguna metode. Dalam kaitan ini,
secara umum ada dua metode dalam pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu
metode bimbingan kelompok dan metode bimbingan individual. Metode bimbingan
kelompok juga dikenal dengan bimbingan kelompok (group guidance), sedangkan
metode bimbingan individual dikenal dengan individual konseling.
Metode Bimbingan Kelompok (Group Guidance)
Cara ini dilakukan untuk membantu siswa (klien) memecahkan masalah melalui kegiatan kelompok. Segala masalah yang bisa dipecahkan bersifat kelompok, yaitu yang dirasakan bersama oleh kelompok atau bersifat perorangan yaitu masalah yang dirasakan oleh individu (seorang siswa) sebagai anggota kelompok.
Dalam penyelenggaraan bimbingan kelompok antara lain dimaksudkan untuk membantu mengatasi masalah bersama atau membantu seorang individu (anggota kelompok) yang mengalami masalah dengan menempatkannya dalam kehidupan suatu kelompok. Beberapa jenis metode bimbingan kelompok yang bisa diterapkan dalam pelayanan bimbingan kelompok adalah program home room, karyawisata, diskusi kelompok, kegiatan kelompok, organisasi siswa, sosio drama, psikodrama, dan pengajaran remedial.
1. Program Home Room
Program home room dilakukan di sekolah dan madrasah (di dalam kelas) di luar jam pelajaran untuk membicarakan hal-hal yang dianggap penting dan perlu. Program ini dilakukan dengan menciptakan suatu kondisi sekolah atau kelas seperti di rumah. Guru dan siswa dapat berkomunikasi seperti di rumah sehingga terjalin keakraban.
Program ini bertujuan agar guru dapat mengenal lebih dekat siswanya sehingga dapat membantu secara efisien. Dalam praktiknya, guru mengadakan Tanya jawab dengan para siswa, menampung pendapat, dan merencanakan suatu kegiatan.
2. Karyawisata
Dalam karyawisata para siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok tergantung dari jumlah siswa dan kebijaksanaan guru. Namun, dalam membentuk kelompok jangan terlalu banyak dan sedikit. Setelah itu siswa dapat mengunjungi tempat-tempat atau objek-objek tertentu yang menarik dan mereka dapat memperoleh informasi yang lebih baik tentang suatu objek. Dalam hal ini misalnya siswa mengunjungi objek wisata Candi Borobudur. Mungkin siswa tidak mendapat informasi yang utuh tentang suatu objek hanya dengan diterangkan oleh gurunya.
Kemudian siswa mengerjakan tugasnya dan setelah selesai siswa dapat melakukan diskusi baik antar anggota kelompok maupun antar kelompok lain. Melalui kegiatan seperti ini, para siswa akan memperoleh penyesuaian dalam berkelompok misalnya dalam hal berorganisasi, kerja sama, rasa tanggung jawab, dan percaya pada diri sendiri. Bekerja sama dalam kelompok juga diharapkan dapat mengatasi masalah siswa yang mengalami kesulitan dalam bekerja sama.
3. Diskusi Kelompok
Cara ini dilakukan untuk membantu siswa (klien) memecahkan masalah melalui kegiatan kelompok. Segala masalah yang bisa dipecahkan bersifat kelompok, yaitu yang dirasakan bersama oleh kelompok atau bersifat perorangan yaitu masalah yang dirasakan oleh individu (seorang siswa) sebagai anggota kelompok.
Dalam penyelenggaraan bimbingan kelompok antara lain dimaksudkan untuk membantu mengatasi masalah bersama atau membantu seorang individu (anggota kelompok) yang mengalami masalah dengan menempatkannya dalam kehidupan suatu kelompok. Beberapa jenis metode bimbingan kelompok yang bisa diterapkan dalam pelayanan bimbingan kelompok adalah program home room, karyawisata, diskusi kelompok, kegiatan kelompok, organisasi siswa, sosio drama, psikodrama, dan pengajaran remedial.
1. Program Home Room
Program home room dilakukan di sekolah dan madrasah (di dalam kelas) di luar jam pelajaran untuk membicarakan hal-hal yang dianggap penting dan perlu. Program ini dilakukan dengan menciptakan suatu kondisi sekolah atau kelas seperti di rumah. Guru dan siswa dapat berkomunikasi seperti di rumah sehingga terjalin keakraban.
Program ini bertujuan agar guru dapat mengenal lebih dekat siswanya sehingga dapat membantu secara efisien. Dalam praktiknya, guru mengadakan Tanya jawab dengan para siswa, menampung pendapat, dan merencanakan suatu kegiatan.
2. Karyawisata
Dalam karyawisata para siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok tergantung dari jumlah siswa dan kebijaksanaan guru. Namun, dalam membentuk kelompok jangan terlalu banyak dan sedikit. Setelah itu siswa dapat mengunjungi tempat-tempat atau objek-objek tertentu yang menarik dan mereka dapat memperoleh informasi yang lebih baik tentang suatu objek. Dalam hal ini misalnya siswa mengunjungi objek wisata Candi Borobudur. Mungkin siswa tidak mendapat informasi yang utuh tentang suatu objek hanya dengan diterangkan oleh gurunya.
Kemudian siswa mengerjakan tugasnya dan setelah selesai siswa dapat melakukan diskusi baik antar anggota kelompok maupun antar kelompok lain. Melalui kegiatan seperti ini, para siswa akan memperoleh penyesuaian dalam berkelompok misalnya dalam hal berorganisasi, kerja sama, rasa tanggung jawab, dan percaya pada diri sendiri. Bekerja sama dalam kelompok juga diharapkan dapat mengatasi masalah siswa yang mengalami kesulitan dalam bekerja sama.
3. Diskusi Kelompok
3. Teknik Bimbingan dan Konseling
Subjek
sasaran bimbingan dan konseling adalah individu sebagai pribadi dengan
karakteristiknya yang unik. Artinya tidak ada dua orang individu yang memiliki
karekteristik yang sama. Atas dasar karakteristik pribadinya, guru pembimbing
memberikan bantuan agar individu dapat berkembang optimal melalui proses
pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan aktualisasi diri.. Untuk
itu seyogyanya Guru Pembimbing memahami pribadi setiap individu yang dibimbing
sehingga dapat melakukan tugasnya membantu siswa ke arah perkembangan yang
optimal. Untuk hal ini, maka menurut Moh Surya( 1998: 4.1), Guru Pembimbing
dituntut paling tidak memiliki dua kemampuan dan keterampilan yaitu : (1)
Kemampuan dan keterampilan memahami individu yang dibimbing dan (2) Kemampuan
dan keterampilan berupa teknik membantu individu. Dengan demikian teknik-teknik
bimbingan dan konseling, mencakup teknik memahami individu dan teknik-teknik
membantu individu.
Langkah-Langkah Konseling :
a. Analisa :
Pengumpulan data, fakta dan informasi tentang diri klien
b. Sintesa : Merangkum dan menyusun data untuk memperoleh ganbaran diri siswa
c. Diagnosa : Perumusan kesimpulan sementara tentang hakekat atau sebab yang dihadapi
d. Prognosa : Ramalan tentang hasil yang dicapai dalam proses konseling
e. Treatment : Proses konseling
f. Tindak lanjut/Follow up:mengevaluasi hasil konseling yang telah dilakukan dan mengambil langkah selanjutnya
b. Sintesa : Merangkum dan menyusun data untuk memperoleh ganbaran diri siswa
c. Diagnosa : Perumusan kesimpulan sementara tentang hakekat atau sebab yang dihadapi
d. Prognosa : Ramalan tentang hasil yang dicapai dalam proses konseling
e. Treatment : Proses konseling
f. Tindak lanjut/Follow up:mengevaluasi hasil konseling yang telah dilakukan dan mengambil langkah selanjutnya
Tahap-Tahapan
Dalam Konseling Perorangan
a. Tahap Awal
Pada tahap
ini dilakukan pembinaan hubungan baik dengan siswa yang dibantu. Kontak awal
antara pembimbing dengan siterbimbing akan sangat mempengaruhi wawancara
konseling. Pada tahap awal ini yang perlu dilakukan adalah :
1. Penataan ruangan/fisik/mencari tempat yang kondusif
2. Sambutan dan perhatian terhadap kehadiran klien
3. Penjelasan maksud dan tujuan konseling
4. Penjelasan peranan dan tanggung jawab masing-masing
1. Penataan ruangan/fisik/mencari tempat yang kondusif
2. Sambutan dan perhatian terhadap kehadiran klien
3. Penjelasan maksud dan tujuan konseling
4. Penjelasan peranan dan tanggung jawab masing-masing
b. Tahap Kegiatan
Pada tahap
ini si pembimbing dengan beragam ketrampilan wawancara konselingnya berupaya
untuk mendorong siswa ke arah pemahaman diri dan lingkungannya dalam kaitannya
denga masalah yang sedang dihadapinya.
c. Tahap Akhir
Tujuan tahap
ini adalah agar siterbantu mampu menciptakan tindakan dan merencanakan,
melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan kesepakatan dan pemahaman selama
proses wawancara konseling berlangsung. Pada tahap ini perlu pula digali kesan
siswa/klien selama proses wawancara berlangsung.
B.
PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN
KONSELING
1. Organisasi
Pelayanan Bimbingan
Organisasi
pelayanan bimbingan meliputi segenap unsur dengan organisasi berikut:
a. Kepala Sekolah
|
:
|
Adalah penanggung jawab pelaksanaan teknis
bimbingan dan konseling di sekolahnya
|
b. Koordinator BK / Guru Pembimbing
|
:
|
Adalah pelaksana utama yang mengkoordinasi semua
kegiatan yang terkait dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah
|
c. Guru Mata Pelajaran/ Pelatih
|
:
|
Adalah pelaksana pengajaran dan pelatih serta
bertanggung jawab memberikan informasi tentang siswa untuk kepentingan
bimbingan dan konseling
|
d. Wali Kelas / Guru Pembina
|
:
|
Ada guru yang diberi tugas khusus disamping
mengajar untuk mengelola satu kelas siswa tertentu dan bertanggung jawab
membantu kegiatan bimbingan dan konseling di kelasnya
|
e. Siswa
|
:
|
Adalah peserta didik yang berhak menerima
pengajaran, latihan dan pelayanan bimbingan dan konseling
|
f. Tata Usaha
|
:
|
Adalah pembantu kepala sekolah dalam
menyelenggarakan administrasi, ketata-usahaan sekolah dan pelaksanaan
administrasi bimbingan dan konseling
|
g. BP3/POMG
|
:
|
Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan / Persatuan
Orang Tua Murid dan Guru adalah organisasi orang tua siswa yang berkewajiban
membantu penyeleng-garaan pendidikan termasuk pelaksanaan bimbingan dan
konseling
|
2. Personel Pelaksana Pelayanan Bimbingan
Personel
pelaksana layanan bimbingan adalah segenap unsur yang terkait di dalam
organigram pelayanan bimbingan, dengan koordinator dan guru pembimbing /
konselor sebagai pelaksana utamanya. Uraian tugas masing-masing personel
tersebut adalah sebagai berikut :
a. Kepala Sekolah
1) Mengkoordinasikan segenap kegiatan yang
diprogramkan di sekolah, sehingga kegiatan pengajaran, pelatihan dan bimbingan
merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis
2) Menyediakan prasarana, tenaga, sarana dan berbagai
kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan yang efektif dan efisien
3) Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap
perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tindak lanjut
pelayanan bimbingan
4) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan
bimbingan di sekolah kepada Kanwil / Kandep yang menjadi atasannya
b. Wakil Kepala Sekolah
Wakil
kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas kepala
sekolah termasuk pelaksanaan bimbingan dan konseling
c. Koordinator
Bimbingan
Koordinator
bimbingan bertugas mengkoordinasi para guru pembimbing dalam :
1) Memasyarakatkan pelayanan bimbingan kepada
segenap warga sekolah, orang tua siswa dan masyarakat
2) Menyusun program bimbingan
3) Melaksanakan program bimbingan
4) Mengadministrasikan pelayanan bimbingan
5) Menilai program dan pelaksanaan bimbingan
6) Memberikan tindak lanjut terhadap hasil
perilaku bimbingan
d. Guru
Pembimbing / Konselor
Sebagai pelaksana utama, tenaga inti dan ahli, guru
pembimbing / konselor bertugas :
1) Memasyarakatkan pelayanan bimbingan
2) Merencanakan program bimbingan
3) Melaksanakan segenap layanan bimbingan
4) Melaksanakan kegiatan pendukung bimbingan
5) Menilai proses dan hasil pelayanan bimbingan
kegiatan pendukungnya
6) Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil
penilaian
7) Mengadministrasikan layanan dan kegiatan
pendukung bimbingan yang dilaksanakannya
8) Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan
dalam pelayanan bimbingan kepada koordinator bimbingan
e. Guru
Mata Pelajaran dan Pelatih
1) Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan
kepada siswa
2) Membantu guru pembimbing mengidentifikasi
siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan
3) Mengalihtangankan siswa yang memerlukan
layanan bimbingan kepada guru pembimbing
4) Menerima siswa alih tangan dari pembimbing
5) Membantu mengembangkan suasana kelas,
hubungan guru – siswa dan siswa–siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan
bimbingan
6) Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada
siswa yang memerlukan layanan bimbingan
7) Berpartisipasi dalam kegiatan khusus
penanganan masalah siswa
8) Membantu pengumpulan informasi yang
diperlukan dalam rangka penilaian bimbingan dan upaya tindak lanjutnya.
f. Wali
Kelas
1) Membantu guru pembimbing melaksanakan
tugas-tugasnya di kelas yang menjadi tanggungjawab
2) Membantu guru mata pelajaran / pelatih
melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan
3) Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan
bagi siswa untuk mengikuti / menjalankan kegiatan bimbingan
3. Mekanisme kerja
a. Guru
mata pelajaran
Membantu memberikan informasi tentang data siswa,
meliputi :
Daftar nilai siswa
Observasi
Catatan anekdot
b. Wali
Kelas
Disamping
sebagai orang tua kedua di sekolah, juga membantu mengkoordinasi informasi dan
kelengkapan data, meliputi :
Daftar
nilai
Angket
siswa
Angket
orang tua
Catatan
anekdot
Laporan
observasi siswa
Catatan
home visit
Catatan
wawancara
c. Guru
pembimbing
Disamping
memberikan layanan informasi kepada siswa juga sebagai sumber data yang
meliputi :
Kartu
akademis
Catatan
konseling
Data
psikotes
Catatan
konferensi kasus
d. Kepala
sekolah
Kegiatan
guru pembimbing yang perlu diketahui oleh kepala sekolah, adalah :
Melaporkan
kegiatan bimbingan dan konseling sebulan sekali
Laporan
tentang kelengkapan data
Pola
penanganan siswa bermasalah
Pembinaan
siswa dilakukan oleh seluruh unsur pendidikan di sekolah, orang tua,
masyarakat, pemerintah. Pola tindakan terhadap siswa bermasalah di sekolah
adalah sebagai berikut : seorang siswa yang melanggar tata tertib dapat
ditindak oleh kepala sekolah. Tindakan tersebut diinformasikan kepada wali
kelas yang bersangkutan. Sementara itu guru pembimbing berperan
dalam mengetahui sebab-sebab yang melatarbelakangi sikap dan tindakan siswa
tersebut. Guru pembimbing bertugas membantu menangani masalah siswa
tersebut dengan meneliti latar belakang tindakan siswa melalui serangkaian
wawancara dan informasi dari sejumlah sumber data, setelah wali kelas
merekomendasikannya.
4. Beban
Tugas Guru Pembimbing / Konselor
Sesuai
dengan keputusan surat keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan
Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor : 043/P/1993 dan Nomor 25
tahun 1991 diharapkan pada setiap sekolah ada petugas yang melaksanakan layanan
bimbingan yaitu guru pembimbing / konselor dengan rasio satu orang guru
pembimbing untuk 150 orang siswa, dan beban tugas / penghargaan jam kerja guru
pembimbing ditetapkan 36 jam / minggu, yang meliputi :
1) Kegiatan
penyusunan program layanan dihargai sebanyak 12 jam
2) Kegiatan
melaksanakan pelayanan dihargai sebanyak 18 jam
3) Kegiatan
evaluasi pelaksanaan pelayanan dihargai sebanyak 6 jam
4) Sebagaimana guru meta pelajaran, guru
pembimbing yang membimbing dihargai sebanyak 18 jam.
5. Hambatan
dan Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah
1. Para pengelola sekolah masih beranggapan bahwa
tugas sekolah adalah mengajar, oleh karena itu semua dana dan usaha dipusatkan
untuk meluluskan sebanyak mungkin siswa agar mereka mendapat ijazah untuk
melanjutkan sekolah. Mutu sekolah diukur berdasarkan jumlah siswa
yang lulus dengan nilai ijazah yang baik. Sekolah yang seperti ini kurang
menghargai dan memperhatikan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di
sekolah. Kehadiran konselor di sekolah dipandang sebagai pemborosan biaya.
Penanganan di serahkan pada wali kelas / guru. Tetapi di pihak lain wali
kelas dan guru tidak mempunyai cukup waktu dan keahlian untuk memberikan
bimbingan pada siswanya
2. Kepala sekolah dan guru masih belum
memiliki pengetahuan yang benar mengenai peranan dan kedudukan program
bimbingan dalam kesatuannya dengan program pendidikan di sekolah. Di
pihak lain kepala sekolah memberikan tugas kepada petugas bimbingan yang bukan
tugasnya, misalnya para konselor ikut menangani disiplin sekolah
3. Banyak lembaga pendidikan konselor,
seperti IKIP, kurang memberikan bekal praktek bimbingan kepada para calon
petugas bimbingan. Akibatnya setelah lulus dan bertugas di lapangan, para
petugas bimbingan kurang memahami tugas pokoknya. Mereka sibuk
daftar pribadi dan membantu tugas kepala sekolah dalam bidang administrasi
sekolah, termasuk melakukan tugas disiplin sekolah. Para siswa
menangkap bahwa sifat BP sebagai pusat pengadilan, sehingga mereka takut
terhadap pembimbing.
4. Nama staf bimbingan memberikan kesan
kepada guru bahwa fungsi bimbingan telah memiliki spesifikasi. Oleh
karena itu mereka bebas dari tugas membimbing siswa, jika menemukan siswa yang
nakal, mereka menyerahkan / menyusun siswa yang nakal tersebut menghadap guru
pembimbing
Banyak petugas bimbingan bukan lulusan studi psikologi
pendidikan dan bimbingan banyak sarjana pendidikan non BP diberi tugas
sebagai konselor sekolah. Mereka umumnya
guru yang berhasil mencapai gelar sarjana pendidikan. Akibatnya banyak program
bimbingan tidak terlaksana dengan baik, bahkan banyak yang melanggar
prinsip-prinsip bimbingan, misalnya seorang konselor menghukum siswa yang
melanggar peraturan sekolah. Sehingga kesan siswa terhadap staff bimbingan sema
KESIMPULAN
Penyelenggaraan konseling profesioanal bertitik tolak
dari pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya. Secara umum,
pendekatan berdasarkan teori-teori dan terapan-terapannya sehingga mewujudkan
ssuatu struktur performansi konseling. Bagi konselor, penggunaan
pendekatan konseling, yaitu pendekatan konseling Gestalat, Pendekatan konseling
Behavioral, dan pendekatan Konseling rasional-Emotif. Masing-masing pendekatan
akan ditelaah dari komponen : (1) konsep dasar, (2) asumsi tingkah laku bermasalah,
(3) tujuan konseling, (4) deskripsi proses konseling, dan (5) teknik-teknik
konseling.
Asumsi tingkah laku bermasalah menurut pendekatan
konseling Behavioral adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau
tingkah laku yang tidak tetap, yitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan
tuntutan lingkungan. Sehubungan dengan asumsi tersebut maka tujuan konseling
Behavioral adalah penghapus/menghilangkan tingkah laku adaptif (masalah) untuk
digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan
klien.
Hubungan personal antara konselor dengan klien
merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling.
Dalam kaitan itu, teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling
berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh
kesadaran secara penuh.
Fungsi
layanan Bimbingan dan Konseling
· fungsi
pemahaman
Memahami
Karakteristik/Potensi/Tugas-tugas perkembangan Peserta didik dan membantu
mereka untuk memahaminya secara objektif/realistik
· fungsi
preventif
Memberikan
Layanan orien-tasi dan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yg patut
dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah
· fungsi
pengembangan
Memberikan
Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu Mengembangkan potensi
dirinya/Tugas-tugas perkembagannya
· fungsi
kuratif
Membantu
para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya
(pribadi,sosial, belajar,atau karir)
DAFTAR
PUSTAKA
Corey, Gerald.2004. Theory
and Practice of Counseling and Psychotherapy. Monterey, California :
Brooks/Cole Publishing Company
May Rollo. 2003. The Art of
Counseling. New Jersey : Prentice Hall, Inc
Prayitno. 2005. Konseling
Pancawaskita. Padang : FIP Universitas Negeri Padang
Departemen Pendidikan dan
kebudayaan, Layanan Konseling Perorangan, Direktorat Pendidikan Menengah Umum,
Jakarta, 1998
Departemen Pendidikan dan
kebudayaan, Layanan Bimbingan Kelompok dan Layanan Konseling Kelompok,
Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Jakarta, 1998
Departemen Pendidikan
Nasional.2004. Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta.
Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah.
Sukardi.D. Ketut. 1983.
Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan Di Sekolah, Surabaya. Usaha Nasional.
Surya,H.M. 1998. Buku Materi
Pokok Bimbingan dan Konseling. Yakarta. Universitas Terbuka.